Sumenep, 24 Februari 2026 - Memasuki minggu awal Ramadan 1447 H, MAN Sumenep kembali menghidupkan tradisi keislaman melalui program Pesantren Ramadhan, pada Senin (23/02). Sejak pukul 07.00 WIB, suasana madrasah tampak berbeda. Para siswi berbusana muslimah memadati Masjid Ar-Rasyidi untuk mengawali kegiatan dengan Salat Dhuha berjamaah, menciptakan atmosfer religius sebelum aktivitas pembelajaran dimulai.
Usai salat, kegiatan dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an secara berkelompok. Lantunan ayat suci menggema di dalam masjid, menghadirkan suasana khusyuk dan penuh ketenangan. Program ini menjadi bagian dari upaya madrasah dalam membudayakan literasi Al-Qur’an sekaligus meningkatkan kualitas ibadah harian peserta didik.
Puncak kegiatan digelar di Aula Graha Wiyata dengan menghadirkan narasumber Ustaz Ahmad Suaidy yang menyampaikan materi bertajuk “Hakikat Puasa”. Ia menjelaskan tiga tingkatan puasa, yakni puasa awam yang sebatas menahan lapar dan dahaga, puasa khusus dengan menjaga pancaindra dari perbuatan dosa, serta puasa khususil khusus yang menjaga hati semata-mata karena Allah. Menurutnya, di era digital saat ini, menjaga pandangan dan aktivitas di media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi pelajar. “Puasa adalah perisai. Jika perisainya retak karena gibah di media sosial, maka esensi ibadahnya hilang,” tegasnya.
Kepala MAN Sumenep, Zaini Mukhsin, menekankan bahwa Pesantren Ramadhan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan laboratorium pembentukan karakter. Ia berharap para siswi tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga menghadirkan kesungguhan hati dalam setiap rangkaian kegiatan. Dengan sistem kehadiran bergantian antara siswa dan siswi, pada hari pertama seluruh siswi kelas X, XI, dan XII tampak antusias mengikuti kegiatan sebagai bagian dari penguatan pemahaman fikih dan pendalaman makna puasa. (Heri)